Lupa Bersyukur
Pernahkah kita
merenung, sekali saja, sambil melihat seorang penjual asongan di terminal dan
bus-bus. Mereka yang berjualan ke sana ke mari, kepanasan, berlarian mengejar
bus, keluar-masuk satu bus ke bus lainnya. Bahkan mungkin mendapat keuntung tak
seberapa, hanya cukup untuk makan sehari.
Pernahkan kita
melihat pedagang yang lugu, hanya bermodal sedikit, berbaju lusuh, berjualan di
pasar tradisional. Hanya mendapat untung lima sampai enam ribu. Dan mereka
tersebut masih menerima Tuhan dan bersyukur pada-Nya.
Seandainya ada
malaikat yang diberi kemampuan mnukar posisi dan keadaan. Lalu menawarkan
kepada kita, apakah kita bersedia? Apakah kita mau menjadi mereka yang setiap
hari berjibaku mengais receh demi receh guna tetap mengepulkan asap dapur, menafkahi
anak istri?
Kita yang sudah
diberi kehidupan yang lebih layak dari mereka, makan tercukupi, pakaian rapi
berlemari-lemari, masih saja tak mudah untuk bersyukur dan menerima Tuhan dan
selalu mengeluh di setiap keadaan, yang tanpa kita sadari bahwa keadaan diri
saat ini lebih beruntung dari orang lain.
Nabi
pernah bersabda, orang yang bisa mendahuluinya masuk surga adalah budak yang
dimiliki. Sangat tidak mudah kita menerima Tuhan sebagai Tuhan ketika keadaan
kita ditakdirkan menjadi budak. Sudah menjadi budak, diinjak-injak, dipukuli,
dan miskin, bahkan tubuhnya sendiri saja tak bisa memiliki. Mereka kok masih
menerima dan senang kepada Tuhan, adalah orang yang pertama kali masuk surga.
Mereka
sama dengan kita, sama sebagai hamba Tuhan. Kenapa mereka bisa menerima dan
bersyukur kepada-Nya, sedangkan kita yang lebih baik keadaannya tidak bisa.
Ada
baiknya sebelum kita mengeluh, lebih baik berpikir ulang, masih banyak orang
yang lebih menderita, kurang beruntung dari kita. Bahkan banyak orang di luaran
sana sekarang yang menginginkan keadaan dan posisi kita saat ini. Ternyata
masih banyak yang perlu kita renungkan dan syukuri.



Ma Sya Allah.. Itulah, kadang kita sllu mmandang rang yg kbutuhannya lbih dr cukup dr pd rang dbwah kita. Wal Hasil kita slit brsyukur dn mnerima apa adanya.
BalasHapus