Tonggak Awal
Aku hanyalah seorang pemula dalam dunia literasi. Hal yang paling kuingat sebagai tonggak awal diri ini masuk dalam dunia literasi ialah dua tahun lalu. Ketika itu aku yang gagal dan tak diterima untuk masuk ke beberapa perguruan tinggi negeri, memutuskan untuk berhenti dulu setahun dan akan melanjutkan kuliah pada tahun berikutnya.
Suatu
hari, aku yang saat itu masih aktif di berbagai grub oprek (editing) ponsel Android
di dunia maya; Facebook, tak sengaja membaca salah status dari salah seorang
teman oprek dan tak luput membaca komentar-komentarnya.
Entah.
Aku lupa tentang statusnya berisi apa, tapi yang kuingat adalah, seorang teman
dari temanku itu berkomentar bahwa dia sedang menulis sebuah novel, dan sudah
menulis sampai lima puluh halaman—seingatku.
Temanku
saat itu sedang menggandrungi hobinya yang kesekian kalinya; menulis lirik
lagu. Hobinya sering berganti-ganti karena dia mudah bosan pada satu aktifitas.
Jika dia sudah bosan, dia akan beralih mencari kegiatan lain dan menekuninya
sampai dia menguasai apa yang dilakukannya itu.
Aku
saat itu hanya menjadi silent reader saja.
Tanpa berkomentar apa pun. Terbesit dalam hati sebuah keinginan untuk bisa menulis
sebuah novel juga. Aku saat itu hanyalah seorang yang sedang bingung dan bosan
dengan kehidupan di rumah yang begitu-begitu saja.
Keinginan
tersebut berlanjut pada sebuah pertanyaan paling mendasar, “Bagaimana cara
menjadi seorang penulis?”
Aku
hanya terdiam; merenung. Aku saat itu tak pernah sekalipun membaca sebuah
novel, ataupun buku-buku fiksi lainnya. Mengetahui nama-nama penulis terkenal
pun tidak. Sungguh menyedihkan.
Pertanyaan
tersebut coba kutanyakan ke beberapa teman yang memang kupercaya melalui sms. Mereka
yang kutanyai sudah lebih dulu terjun dalam dunia perkuliahan. Jawaban demi
jawaban kudapatkan.
Ada
beberapa jawaban yang hampir sama dari beberapa teman. Salah satunya adalah
mencoba menulis dari hal-hal kecil, misalnya curhat, kegiatan sehari, diary
ataupun pengalaman-pengalaman masa lalu.
Selang
beberapa waktu, aku tak melakukan tindakan apa pun. Hanya terdampar pada sebuah
keinginan yang kian lama semakin memudar dimakan waktu, seperti terumbu karang yang
sedikit demi sedikit tergerus dan berkurang karena terkikis oleh ombak yang
menerjang.
Beberapa
bulan lalu, ketika aku sudah kuliah di salah satu universitas di Jawa Tengah,
salah seorang teman yang sangat dekat sekali denganku member informasi tentang
grub kepenulisan di Facebook.
Komunitas
Bisa Menulis. Sebuah grub yang didirikan oleh Isa Alamsyah dan Asma Nadia di
Facebook itu diisi oleh orang-orang yang mempunyai minat yang sama; menulis. Lebih
dari 150 ribu akun tergabung di dalamnya.
Aku
yang baru bergabung hanya bisa menjadi silent
reader, dan tak berani membuat postingan ataupun sekadar berkomentar. Sesekali
hanya memberi like. Dari grub itu kubaca banyak sekali tips dan motivasi dari
Pak Isa yang beliau posting dan arsipkan di file grub yang kebanyakan ku-bookmark.
Sebulan
dua bulan telah berlalu, hampir setiap hari aku membaca postingan di grub itu. Tanpa
sengaja aku membuka link dari blog salah satu member di sana tentang
menerbitkan sebuah buku.
Katanya, ketika salah seorang teman kita berhasil
menerbitkan buku, reaksi kita yang memang bermental gratisan, suka sekali
meminta gratisan dari mereka. Katanya,
jangan minta gratisan! Menulis dan menerbitkan buku itu susah dan penuh
perjuangan, katanya lagi. Maka, hargai sebuah karya yang dihasilkan teman kita
dengan membelinya.
Awalnya
tak sengaja. Karena tulisannya enak dan mengalir, aku jadi membaca beberapa
postingan di blognya.
Kutemukan
sebuah pernyataan yang menarik. Ia menuturkan bahwa setiap hari harus menghasilkan
setidaknya satu tulisan di blog. Entah apa pun tulisannya.
Jika
tidak bisa konsisten menulis satu postingan hari itu, maka harus diganti dan
dilunasi pada hari berikutnya.
One
Day One Post. Itulah nama program yang didalanginya. Aku tertarik untuk
mengikuti program tersebut. Terlebih aku di sana bisa berkumpul dengan beberapa
teman penulis dan belajar bersama. Tapi, ternyata program itu belum dibuka batch (gelombang) selanjutnya.
Tepat
pada bulan Oktober lalu, dibuka pendaftaran batch ketiga. Program yang kunanti
sejak lama itu akhirnya dibuka. Tanpa pikir panjang, aku mendaftarkan diri dan
diterima dengan baik.
Di
grub inilah aku mendapatkan teman-teman yang baik; saling menasehati, bersendau
gurau dan bahkan aku sekarang sering dijodoh-jodohkan juga. -_- Hehehe.
Yah,
grub yang sangat menyenangkan.
Maafkan aku, kawan. Lebih dari sebulan kemarin,
aku tak menulis apa pun di blog lagi. Tak menuangkan apa yang kumiliki. Menorehkan
goresan hitam di atas putih yang mungkin saja bisa menjadi obat bagi mereka
yang galau, menjadi penambah wawasan pembaca, ataupun hanya menumpahkan rasa ke
dalam guratan aksara.


Blog baru alhamdulilah. Tulisan baru alhamdulilah. :D
BalasHapusHehe. Yuhuu.
HapusEh iya baru Sadar...blogspot.com
BalasHapusHaha. blogspot.co.id Mbak. :D
Hapus